Surya Institute

A free template from Joomlashack

Informasi

Surya Institute on Facebook

MEDALS

Gold: 81

Silver: 60

Bronze: 88

Latest News

Home
Mutiara- Mutiara dari Papua
Written by lia   
Thursday, 01 October 2009

Papua dikenal dengan kekayaan alamnya. Ada burung Cenderawasih kuning di Serui, ada buah merah di Wamena, ada buah matoa yang bentuknya seperti rambutan tapi rasanya seperti durian, ada ribuan jenis ikan di Raja Ampat, ada emas dan tembaga di Timika,ada minyak dan gas di Bintuni, ada batu bara, nikel, dan berbagai jenis tambang lain.

Image

Namun, di tengah kekayaan alam yang melimpah ini, Papua masih hidup dalam keterbelakangan.  Terutama dalam bidang pendidikan, lebih khusus lagi matematika.  Matematika dari dulu menjadi hal yang menakutkan bagi anak-anak Papua.  Bahkan banyak anak SMA tidak mampu menghitung operasi dasar matematika seperti perkalian dan pembagian.  Mereka juga sulit untuk menghitung hal yang berhubungan dengan pecahan dan desimal.

Kondisi ini membuat kami di Surya Institute tergerak untuk berupaya membantu Papua mengatasi keterbelakangan ini.  Sebenarnya, anak-anak Papua tidak bodoh; jika mereka diberi kesempatan belajar dengan metode yang baik dan benar, mereka terbukti mampu menjadi juara, bahkan di tingkat internasional.

Mutiara-mutiara dari Papua, begitulah sebutan bagi anak-anak Papua yang ternyata bisa tampil berprestasi, mengharumkan nama Papua dan nama bangsa di kancah nasional maupun internasional.  Dalam upaya mengembangkan suatu prototype pengembangan pembelajaran matematika di Papua (maupun bagi daerah lain juga), Surya Institute bekerja sama dengan beberapa pemerintah daerah kabupatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat seperti World Vision International (WVI), mulai mengambil lima siswa SD dari beberapa kabupaten, terutama dari daerah pegunungan yang dianggap daerah sangat terbelakang.

Tiga bocah mungil dari Tolikara, dari daerah pegunungan tengah di Papua, saat ini telah mengikuti pelatihan Matematika metode “GASING” oleh Prof Yohanes Surya, Ph.D selama enam bulan, dengan lokasi di Karawaci, Tangerang.  Mereka luar biasa, karena dalam waktu hanya 4 bulan mereka sudah mampu menguasai perhitungan matematika dari kelas 1-6 SD, padahal waktu di Tolikara mereka walaupun diantara mereka ada yang sudah duduk di kelas 5 SD, masih belum mampu menghitung penjumlahan dan perkalian dengan baik.

Rabu, 30 September 2009, keltiga mutiara dari Tolikara, Papua, siap mengikuti tes Matematika, yang diharapkan setingkat  ujian Matematika SD.  Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa  Papua sebelum mereka dilatih lebih lanjut untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional ataupun olimpiade internasional lainnya.  Soal-soal dibuat oleh beberapa anggota tim pembuat soal ujian nasional (sebagian dari mereka adalah anggota dari Badan Standard Nasional Pendidikan).

Siswa-siswi yang mengikuti  tes Matematika adalah:

Nama                      : Wemy Jikwa

Usia                        : 12 tahun

Asal Sekolah            : SD Negeri Tolikara

Nilai tes                  : 6, 75

 

Nama                      : Merlin Enjelin Rosalina Kogoya

Usia                        : 9 tahun

Asal Sekolah            : SD YPPGI

Nilai tes                  :  6,25

 

Nama                      : Ali Kogoya

Usia                        : 12 tahun

Asal Sekolah            : SD Negeri Tolikara

Nilai tes                  : 6,25 

Soal tes yang diujikan berjumlah 40 soal,   waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal adalah 120 menit  namun anak- anak mengerjakannya tidak sampai 120 menit, sekitar  kurang lebih 60 menit soal telah mereka selesai kerjakan, dan sisa waktunya mereka gunakan untuk mengoreksi  ulang jawaban mereka. Hasil tes diperiksa oleh juri independent Bapak Chairus Sabri. Melihat dari hasil tes yang telah diperoleh anak- anak kemarin kemarin kendala yang diketemukan adalah bahwa mereka kurang memahami  bahasa Indonesia yang baku, sehingga  pada saat mereka mengerjakan soal yang terjadi adalah mereka salah dalam mengartikan soal. Apabila anak-anak ini dapat memahami Bahasa Indonesia yang baku dan benar dalam mengartikan soal maka hasil nilai yang diperoleh akan melebihi nilai yang diperoleh saat ini.  

Selain para siswa-siswi Papua yang dilatih dengan Matematika metoda “GASING”, Surya Institute juga melatih 100 anak Papua setiap tahun untuk dikirim melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar dan dalam negeri.  Para siswa-siswi ini akan menjadi bagian dari suatu program yang lebih besar lagi, yang mana lewat Lembaga Nobel Indonesia, akan tercipta 30.000 Ph.D dalam bidang sains dan teknologi di seluruh Indonesia di tahun 2030.  Dari 30.000 Ph.D ini diharapkan Papua dapat berkontribusi sebanyak 1000 Ph.D.  Mutiara-mutiara Papua yang sedang disiapkan ini ke depannya dapat menjadi bagian dari 1000 Ph.D yang akan membangun Indonesia, khususnya Papua.

Last Updated ( Wednesday, 23 June 2010 )
 
< Prev   Next >
 © 2009 Surya Institute